pecinta-alam-itu-keras-bukan-kasar

Pecinta Alam Itu Keras Bukan Kasar

21, November 2016 11:33 PM | Author : Ratna Setyaningrum | Category: LP3M | 5 minutes, 24 seconds

Yayat Hidayat “Lessie”. Foto : Ahmad Fauzan

Seorang laki-laki setengah baya nampak tengah memberikan orasi di hadapan sekitar tiga ratus Pecinta Alam di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Minggu, (05/02/2017) lalu. Lelaki yang ketika itu menggunakan kemeja biru laut dan sal berwarna biru orange bertuliskan Jana Buana ini memberikan dukungan kepada Mapala Unisi yang tengah dirundung musibah dengan meninggalnya tiga mahasiswa UII dalam Pendidikan Dasar yang digelar Mapala Unisi.

Kepada para Pecinta Alam, ia menegaskan bahwa Pecinta Alam itu keras bukan kasar. Ini yang membuat Pecinta Alam bisa berada di jurang 500 meter mencari korban Sukhoi di Gunung Salak dan menyisir mayat-mayat pada bencana Tsunami di Aceh. Jadi kekerasan yang kerap disandingkan kepada Pecinta Alam, itu karena mereka tidak tahu dapur Pecinta Alam.

Dialah Yayat Hidayat atau yang dikenal dengan“ Yat Lessie”. Ia merupakan salah satu pendiri Jana Buana, kelompok Pecinta Alam yang berada di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1971 lalu. Saat ini, pria yang pernah menempuh pendidikan di Planologi ITB ini, selain bekerja sebagai konsultan, ia juga aktif berkeliling kampus memberikan materi tentang Pencinta Alam dan menjadi mentor kegiatan pecinta alam.

Usai memberikan orasi di hadapan kepada para pecinta alam, KabarKampus menemui Yat Lessie untuk mewawancarainya. Pria yang lahir di Bogor 1954 lalu ini pun menyambut KabarKampus dengan ramah.

Apa yang membuat akang masih tertarik mengikuti isu Pecinta Alam dan mau datang ke sini?

Pecinta alam adalah wilayah yang menarik. Kalau di kota orang punya seribu wajah yang 999 wajahnya adalah palsu dan hanya satu yang asli. Sementara di Pecinta Alam, 999 wajah itu ngga perlu, yang dibutuhkan hanya satu wajah, yaitu wajah yang asli saja. Kapan itu terjadi, yaitu ketika mereka masuk ke dalam alam.

Kan di alam tidak butuh wajah palsu. Alam selalu membutuhkan wajah asli. Jadi kenapa saya suka bergaul dengan mereka, karena mereka memiliki wajah-wajah asli. Tidak ada kepalsuan dan kebohongan di sana dan mereka juga mudah akrab.

Apa bedanya Pecinta Alam jaman sekarang dan jaman akang?

Semua tidak ada perubahan, nilainya tetap sama. Hanya saja metodenya yang berbeda. Contoh, peralatan yang berbeda. Dulu tidak ada aktivitas climbing, yang ada adalah free climbing. Kami mendaki tebing di citatah 48 meter, freetanpa pengaman sama sekali. Sekarang jauh lebih aman.

Sekarang ada teknologi yang berkembang. Ada ponsel, untuk mengetahui lokasi seseorang. Jadi resikonya lebih besar dulu. Memang ada perubahan, tapi secara makna tidak ada perubahan.

Lalu, Kekerasan dalam konteks Pecinta Alam itu sebenarnya seperti apa?

Sekali lagi, konteks kekerasan di sini mampu memaknai diri sendiri. Seperti kerasan terhadap seorang Infatri dan Kopassus yang berbeda. Mereka sama-sama keras namun konteksnya berbeda.

Namun yang tidak boleh adalah kekerasan. Keras itu tegas yang kebalikannya lembek. Yang tidak boleh adalah kasar. Kebalikan kasar adalah lembut.

Dalam praktek di lapangan keras yang dimaksud seperti apa?

Dalam fisik misalnya, tempeleng diperbolehkan. Hukuman ini adalah yang tertinggi dalam Pecinta Alam. Namun tempeleng juga ada SOPnya yaitu pakai jari serta ke pipi.

Tempeleng berbeda dengan pukul. Pecinta Alam tidak boleh mukul dan nendang. Sementara pushup adalah hal yang paling biasa.

Kenapa itu perlu dilakukan?

Hal itu dilakukan agar orang siaga dan terjaga. Mengapa orang harus siaga dan terjaga, karena ketika masuk alam bebas, ada hukum ketidak pastian. Seperti frame waktu, kalau Anda dipatok king cobra di hutan, Anda punya waktu satu jam, satu jam lewat Anda mati. Kalau tidak minum, Anda punya dua hari. Kalau tidak makan, Anda punya waktu tiga Minggu. Kalau hilang kesadaran di arum jeram, Anda punya waktu satu detik.

Jadi kita harus selau memiliki frame waktu di alam. Nah untuk menghadapi frame waktu yang sempit dan panjang tadi adalah terjaga dan siaga. Nah pembelajaran pertama bagi Pecinta Alam bukan survivel dan bukan Kompas. Tapi siaga dan terjaga. Inilah modal utama. Inilah yang membedakan siapa pulang selamat dan pulang dalam kantung mayat.

Selama ini perjalanan kelam Pecinta Alam seperti banyak Pecinta Alam yang meninggal itu karena apa?

Mereka yang meninggal saat pendidikan dasar, jarang saat di lokasi pendidikan dasar atau di lapangan. Itu terjadi saat pulang ke rumah. Coba dilihat, dua orang yang meninggal di Mapala Unisi terjadi saat mereka pulang ke rumah. Artinya apa, jangan-jangan saat mereka pulang ke rumah, ada sesuatu yang di luar kendali.

Ketika keluar pendidikan, kita tidak tahu apa yang terjadi, sehingga biasanya kalau kita ngadain pendidikan dasar, sebelum orang itu pulang, mereka dikarantina dulu, dua hingga tiga hari. Contohnya gini, orang sudah survivel makannya kurang. Ketika makan kurang, pasti si usus melilit agak rapet. Pada posisi usus merapat, orang tadi makan rujak cuka atau nutrisari yang asamnya kuat, itu ususnya bisa jebol.

Harus ada prosedur misalkan makan bubur dulu yang lembek. Seperti puasa, tidak sekaligus makan nasi dua piring. Perlu diawali dengan takjil dan sebagainya.

Jadi ini bukan mencari pembenaran. Tapi faktanya seperti itu, mereka yang meninggal, terjadi setelah keluar dari Pendidikan Dasar. Bukan pada saat pendidikan dasar. Jadi ada kendali di luar kita.

Kalau menurut Akang, Paradigma Kepecintaalaman yang keliru itu seperti apa?

Abad 21 adalah abad perubahan paradigma. Seperti berubahan filsafat ilmu yang berubah, termasuk paradigma Pecinta Alam. Saya sering keliling ke kampus-kampus untuk bicara perubahan paradigma Pecinta Alam. Paradigama Pecinta Alam seperti bumi adalah organisme, bukan benda planet.

Karena dia organisme bukan planet, maka harus ada perubahan paradigma. Perlakukan kita terhadap bumi bukan sebagai benda. Dia itu ibu kita sendiri, berarti harus ada perlakukan khusus.

Tidak lagi seperti saya dulu, paradigmanya adalah menaklukan alam dan bukit. Kalau bumi ibu sendiri, masak menaklukan ibu sendiri. Merusak alam berarti memperkosa ibu sendiri. Budaya atau agama apapun melarang anak mempekosa ibunya. Itu perubahan paradigma yang seharusnya terjadi pada abad 21 ini.

Tapi paradigma yang keliru soal Pecinta Alam masih banyak kang?

Masih ada dan masih banyak sekali. Untuk itu di kesempatan seperti ini, soal paradigma Pecinta Alam itu kita berikan. Kita tidak bosan – bosan. Saya sering ke Bali, Purbalingga atau kemana-mana untuk menyebarkan perubahan paradigma ini.

Ada pesan yang ingin disampaikan buat para pecinta alam dan masyarakat terkait dunia Pecinta Alam?

Pecinta alam adalah sebuah wadah organsiasi menekankan pembinaaan karater. Bahwa untuk sukses dalam hidup, 15 persennya ditentukan oleh kemampuan teknis, gelar, dan disiplin ilmu. Sementara 85 persen adalah karakter. Yang membedakan BJ Habibi dengan ahli penerbangan lainya adalah Habibi punya karater. Begitu juga Einstein dengan ahli fisikawan lainnya adalah Einstein punya karakter.

Sementara Pendidikan Nasional kita sekarang ini, 80 persennya adalah untuk membetuk yang 15 persen dan 15  persen biaya untuk membetuk karater, seperti di Mapala atau Pecinta alam.

Nah tidak jadi masalah, kami tidak mengeluh. Oleh karena itu siapa yang ingin masuk Pecinta Alam, masuklah karena yang kami bina bukan sekedar teknik, tapi karater. Itu jauh mebuat berhasil dalam hidup kita.